27 Agustus 2009

HO LOPIS KUNTUL BARIS


HO LOPIS KUNTUL BARIS

Apakah anda tahu kalimat di atas? Benar sekali. Kalimat di atas sering kita dengar saat gotong royong, terutama di desa, tak terkecuali di desa-desa kawasan Wonosobo. Sebenarnya apa sih tujuan orang desa mengucapkan kalimat di atas saat gotong royong, terutama saat mengangkat benda-benda berat yang tidak mampu diangkat oleh hanya satu orang?

Percaya atau tidak, kalimat di atas mempunyai tuah sebagai motivasi sekaligus sugesti penambah semangat dan kekuatan agar seseorang kuat mengangkat benda yang berat. Syirik? Tunggu dulu, jangan keburu memvonis seperti itu. Sebenarnya bagaimana sih asal muasal kalimat tersebut?

Ho Lopis Kuntul Baris sangat erat kaitannya dengan Juan Lopes Comte de Paris.

Ketika Indonesia masih dijajah oleh belanda dan gubernur Jenderal yang me-merintah dipercayakan kepada Daendels, ia mempunyai seorang ajudan yang bernama Juan lopes Comte de Paris. Ia berkebangsaan Perancis. Daendels memerintah hindia belanda, nama Indonesia saat itu, dengan tangan besi. Untuk memudahkan transport-tasi darat di Jawa, ia berencana membangun jalan arteri dari Anyer di ujung barat pulau Jawa sampai Panarukan di ujung timur pulau Jawa. Demi mewujudkan ambisi-nya yang impossible itu ia menerapkan kebijakan Rodi atau kerja paksa dengan mempekerjakan warga Hindia belanda tanpa upah sepeser pun. Untuk mengawasi pekerjaan di lapangan ia menugaskan beberapa mando, salah satu diantaranya adalah Juan Lopes Comte de Paris.

Saat pekerjaan Rodi memasuki tahapan babat alas dengan menebangi pohon-pohon yang besar, Juan Lopes memerintahkan agar para pekerja yang kurus kering dan kurang makan itu mengangkat batang pohon yang besar-besar. Ada sebuah pohon yang besar sekali, yang biar pun diangkat oleh puluhan pekerja tetap tidak mau bergeser dari tempatnya.

“Cepat! Ayo lebih semangat lagi! Tar … tar …!” begitu teriak Juan Lopes dan lecutan cambuknya. Tetapi apa daya, tubuh-tubuh yang kurus kering dan kurang makan itu tetap tidak mampu mengangkatnya.

“Memang kalian tidak berguna! Tar … tar …! Menyingkirlah kalian! Biar aku angkat sendiri!”

Dengan kemarahan yang meluap-luap dan rasa kesal yang tidak tertahankan, Juan Lopes maju dan mengangkat pohon itu. Luar biasa, dengan tubuh raksasa yang dimilikinya, Juan Lopes mampu mengangkatnya!

“Ha??!!” Para pekerja melongo dan terkejut dengan kekuatan Juan Lopes.

Kuwe ngono dudu menungso.” Kata seorang pekerja.

“Kuwe ngono genderuwo.” Pekerja yang lain menimpali.

“Sst, ngawur! Kuwe ke genderuwo sing wujude menungso.” Seru yang lain lagi.

Sejak saat itulah, setiap kali orang mengangkat benda yang berat dengan bergotong royong mengucapkan kalimat di atas sebagai motivasi dan wasilah agar mempunyai kekuatan yang berlebih layaknya Samson dari Perancis alias Juan Lopes Comte de Paris.

Disamping Ho Lopis Kuntul Baris, Juan Lopes juga berperan dalam pemben-tukan sebuah kalimat, yang tentu saja diawali dengan kesalahpahaman. Kalimat itu adalah kutang yang sering kita asumsikan sebagai penutup dada wanita. Ceritanya begini:

Ketika Juan Lopes mengawasi Rodi, ia melihat diantara para pekerja ada seorang gadis yang masih muda belia ikut kerja paksa. Karena kemiskinan sebagai akibat penjajahan Belanda, gadis tersebut bekerja sebagaimana laki-laki, tanpa mengenakan penutup dada. Melihat hal ini Juan Lopes mengambil secarik kain dan mendekati gadis tersebut seraya memerintahkan agar gadis itu menutupi dadanya dengan kain yang dibawanya.

“Cautant, cautant!” Teriak Juan Lopes sanbil menunjuk kea rah dada gadis itu. Maksudnya, ia memerintahkan agar wanita itu menutupi barang berharga milik-nya. (Cautant = berharga).

“Nopo niki Ndoro Tuan?” Tanya gadis itu tidak mengerti apa yang dimaksud Juan Lopes sambil menerima kain pemberiannya.

“Cautant, Cautant!” teriak Juan Lopes tidak kalah bingungnya.

“Oo .. Iki ke jenenge kutang.” Kata teman wanita didekatnya sok tahu sambil memegang kain pemberian Juan Lopes.

Sejak saat itulah, kain penutup dada wanita disebut kutang, yang ironisnya berawal dari kesalahpahaman dan tidak nyambung dengan makna aslinya.

Dari buku Novel Pangeran Diponegoro: Menggagas Konsep Ratu Adil, Tiga Serangkai, Solo: 2007.

latian he he he


اللهم صل صلاة كاملة، وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد الذى تنحل به العقد، وتنفرج به الكرب، وتقضى به الحوائج، وتنال به الرغائب، وحسن الخواتم وسيتشقى الغمام بوجهه الكريم، وعلى أله وصحبه فى كل لمحة ونفس بعدد كل معلوم لك

Allohumma sholli ’sholaatan kaamilatan wa sallim salaaman taaamman ‘ala sayyidina Muhammadinilladzi tanhallu bihil ‘uqodu wa tanfariju bihil qurobu wa tuqdho bihil hawaaiju wa tunalu bihir roghooibu wa husnul khowaatimu wa yustasqol ghomamu biwajhihil kariem wa ‘ala aalihi wa shohbihi fie kulli lamhatin wa nafasim bi’adadi kulli ma’lumin lakaArtinya : Ya Alloh berilah sholawat dengan sholawat yang sempurna dan berilah salam dengan salam yang sempurna atas penghulu kami Muhammad yang dengannya terlepas segala ikatan, lenyap segala kesedihan, terpenuhi segala kebutuhan, tercapai segala kesenangan, semua diakhiri dengan kebaikan, hujan diturunkan, berkat dirinya yang pemurah, juga atas keluarga dan sahabat-sahabatnya dalam setiap kedipan mata dan hembusan nafas sebanyak hitungan segala yang ada dalam pengetahuanMU

Sholawat ini pernah diijazahkan oleh ustadz Mawardi, salah seorang muthowwif jamaah hajji Tazkia yang sudah menetap lama di Saudi. Sholawat ini hendaknya dibaca 11 kali setelah sholat fardhu. Sholawat ini banyak faedahnya

Belakangan setelah beberapa waktu berlalu saya membaca kitab terjemahan Afdhal al Salawat ‘ala Sayyid as Sadat karangan Yusuf bin Ismail an Nabhani (diterjemahkan oleh Muzammal Noer dengan judul Bershalawat untuk mendapat keberkahan hidup, dengan penerbit Mitra Pustaka, Cetakan I Desember 2003 hal 302)
Imam Ad Dinawari berkata : Siapa saja membaca shalawat setiap selesai sholat sebanyak 11 kali dan ia menjadikannya sebagai bacaan rutin maka rizkinya tidak akan pernah putus dan ia mendapatkan derajat yang tinggi…

Play sholawat nariyah

Berita terkait : http://id.wikipedia.org/wiki/Kyai_hamid_pasuruan