24 November 2010

SEKEDAR RENUNGAN

Renungkanlah.

Siapa yang tau sampai kapan kita hidup?!Siapa yang tau berapa lama lagi kita harus menebus semua dosa?!Siapa yang tau takdir apa yang akan terjadi pada kita?!Siapa yang tau setelah mati kita akan ditempatkan dimana, surga atau neraka?!

Siapa yang tau apa yang akan terjadi besok?!Apa kita masih dapat berjalan seperti hari iniApa kita masih bisa membaca seperti saat iniKegembiraan yang kita rasakan dapat langsung berubah hanya dalam satu kedipanSeberapa besar kuasa manusia tuk melawan kata ”kun”Hanya dengan 0.005 detik atau bahkan kurang dari itu semua dapat terjadiHarta, nyawa dan segalanya menjadi tak berarti dan kan lenyap tanpa kompromiApa yang dapat diperbuat manusia?!Membayangkan saja tak sanggup

Apa kamu punya ”tabungan” untuk menghadapinya?!Siapkanlah imanmu mulai dari sekarang 

13 September 2010

MAKNA HALAL BI HALAL

Halal bihalal, dua kata berangkai yang sering diucapkan dalam suasana Idul Fitri, adalah satu dari istilah-istilah “keagamaan” yang hanya dikenal oleh masyarakat Indonesia. Istilah tersebut seringkali menimbulkan tanda tanya tentang maknanya, bahkan kebenaranya dalam segi bahasa, walaupun semua pihak menyadari tujuannya adalah menciptakan keharmonisan antara sesama. Hemat saya paling tidak ada dua makna yang dapat dikemukakan menyangkut pengertian istilah tersebut, yang ditinjau dari dua pandangan. Yaitu, pertama, bertitik tolak dari pandangan hukum Islam dan kedua berpijak pada arti kebahasaan.

Menurut pandangan pertama – dari segi hukum – kata halal biasanya dihadapkan dengan kata haram. Haram adalah sesuatu yang terlarang sehingga pelanggarannya berakibat dosa dan mengundang siksa, demikian kata para pakar hukum. Sementara halal adalah sesuatu yang diperbolehkan dan tidak mengundang dosa. Jika demikian halal bihalal adalah menjadikan sikap kita terhadap pihak lain yang tadinya haram dan berakibat dosa, menjadi halal dengan jalan mohon maaf.
Pengertian seperti yang dikemukakan di atas pada hakikatnya belum menunjang tujuan keharmonisan hubungan, karena dalam bagian halal terdapat sesuatu yang makruh atau yang tidak disenangi dan sebaiknya tidak dikerjakan. Pemutusan hubungan (suami-istri, misalnya) merupakan sesuatu yang halal tapi paling dibenci Tuhan. Atas dasar itu, ada baiknya makna halal bihalal tidak dikaitkan dengan pengertian hukum.
Menurut pandangan kedua – dari segi bahasa – akar kata halal yang kemudian membentuk berbagai bentukan kata, mempunyai arti yang beraneka ragam, sesuai dengan bentuk dan rangkaian kata berikutnya. Makna-makna yang diciptakan oleh bentukan-bentukan tersebut, antara lain, berarti “menyelesaikan problem”, “meluruskan benang kusut”, “melepaskan ikatan”, dan “mencairkan yang beku”.
Jika demikian, ber-halal bihalal merupakan suatu bentuk aktifitas yang mengantarkan para pelakunya untuk meluruskan benang kusut, menghangatkan hubungan yang tadinya membeku sehingga cair kembali, melepaskan ikata yang membelenggi, serta menyelesaikan kesulitan dan problem yang menghalang terjalinnya keharmonisan hubungan. Boleh jadi hubungan yang dingin, keruh, dan kusut tidak ditimbulkan oleh sifat yang haram. Ia menjadi begitu karena Anda lama tidak berkunjung kepada seseorang, atau ada sikap adil yang Anda ambil namun menyakitkan orang lain, atau timbul keretakan hubungandari kesalahpahaman akibat ucapan dan lirikan mata yang tidak disengaja. Kesemuanya ini, tidak haram menurut pandangan hukum, namun perlu diselesaikan secara baik; yang berku dihangantkan, yang kusut diluruskan, dan yang mengikat dilepaskan.
Itulah makna serta substansi halal bihalal, atau jika istilah tersebut enggan Anda gunakan, katakanlah bahwa itu merupakan hakikat Idul Fitri, sehungga semakin banyak dan seringnya Anda mengulurkan tangan dan melapangkan dada, dan semakin parah luka hati yang Anda obati dengan memaafkan, maka semakin dalam pula penghayatan dan pengamalan Anda terhadap hakikat halal bihalal. Bentuknya memang khas Indonesia, namun hakikatnya adalah hakikat ajaran Islam.

31 Mei 2010

SURGA PARA PEROKOK

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,


sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,


Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,


Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,


Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,


Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,


Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.


Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,


Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,


30 Maret 2010

Apakala yang dilaku tiada sedari
terus sahaja mengundang padah durjana
yang akhirnya terpalit hamis sendiri
yang mana sesalnya mungkin..
..tapi parutnya tak pasti sembuh

manusia tolonglah hormati ikatan insan
jangan dilanggar batasan itu
apa dicari
apa diharap
apa dibuktikan
kerna tiada yang diakal mu
yang ada pada mu hanyalah..
.. khayalan getis pimpinan amarah

jadilah insan bukan manusia murahan
mengikut arus yang kononnya suci
tapi sebenarnya busuk bernanah
yang sehari-hari tambah nazak
pada akhirnya pasti mereput..
.. apa mahu begitu?

29 Maret 2010

EL RAHMA


Demi Tuhan
Dan demi tuhan
Sungguh – sungguh langkahku
Lantas apa salahku padamu
Heran kenapa kau begitu
     
      Dan demi Tuhan
      Kutah yahu
      Mengapa kau membunuhku
Apa yang harus ku lakukan padamu
Wahai el – rahma, gema hatiku

Mestikah tali jiwa ini diputuskan
Mati menghadang di depan mata
Air beracun menghanguskan tenggorokan
Atau aku harus menggerakkan kaki
Menjauhi bayanganmu
Rahasia apa yang masih engkau genggam

Wahai el – rahma
Mana yang mampu menghiburmu
Aku teraniyaya atau tak berdaya

24 Maret 2010

PENGHORMATAN TERHADAP GURU

PENGHORMATAN TERHADAP GURU

Adab yang tidak boleh dilakukan terhadap guru sebagai berikut :

Ø Tidak berjalan di depan guru.

Ø Tidak menduduki tempat yang di duduki seorang guru .

Ø Tidak mendahului bicara di hadapan guru kecuali dengan izinnya.

Ø Tidak bertanya dengan pertanyaan yang membosankan guru.

Ø Tidak mengganggu istirahat guru.

Ø Tidak menyakiti hati guru.

Ø Jangan duduk terlalu dekat dengan guru.

BAB II

TUNTUNAN PENUNTUT ILMU
Ø Biasakan bangun malam untuk beribadah.

Ø Menjaga Wudhunya dengan Istiqomah.

Ø Belajar atau Berdzikir dipermulaan (antara Magrib dan Isya) dan akhir malam

(Sahur).

Ø Perbanyak Puasa Sunnah dan menjalankan Sholat Sunnah.

Ø Memperbanyak membaca Shalawat atas Nabi Muhammad SAW.

Ø Menghadap Kiblat ketika Belajar atau Berdzikir.

Ø Memulai suatu pekerjaan hari Rabu.

Ø Biasakan bersiwak dan meminum madu.

Ø Tidak melonjorkan kaki ke depan Kiblat.

Ø Menghindarkan makan Ketumbar dan Apel Asam.

Ø Hindarkan untuk melihat salib dan membaca tulisan pada nisan.

Ø Hindarkan tidur setelah Sholat Shubuh.

CINTA MUNGKIN PENGHIANATAN

Ketika hati teracuni cinta
Mata hati bisa menjadi buta
Tak pandang siapa yang punya
Terpenting diri ini bahagia

Cinta harus saling menyayangi
Tak harus memiliki
Apa lagi saling menelanjangi
Harga diri tak akan berarti


Cinta tak hanya diucapkan
Ungkapan hati paling dalam
Terwujud dalam kelakuan
Tak akan hilang dan tenggelam

Hati tak akan berpaling
Ketika cinta berdemi dihati
Rasa takut akan hilang
Tuk penuhi hasrat dalam hati

Hati tak akan puas
Bila kasih tak sampai
Raga ini akan lemas
Kasih tak sampai

Mestinya rasa cinta di hati
Tak hanya nafsu belaka
Hati akan durhaka
Pada dzat yang maha pencipta

Hati sang pecinta
akan selalu setia
Menanti datangnya cinta abadi
Menghadap Ilahi Robbi

Memahami Cinta yang ada
Benar sangat mulia
Memberikan cinta di dada
Tak harusnya ada rasa iba

Cinta mungkin penghianatan
Demi cinta yang ada
Mereka sanggup lakukan apa saja
Walau hina adanya

21 Maret 2010

CINTA PUTIH

Ada bayang yang tak pernah pergi
Ada nama yang s’lalu mendiami
serta seutas wajah yang menerangi
Pada hati…bangkitkan semangat diri
tuk lalui hari-hari
Meski kutau bagiku takkan mungkin lagi ada dirimu
Tetap saja kubiarkan engkau mendiami seluruh taman asa
di antara kuntum bunga mawar yang pernah ada diantara kita
Merekah indah diantara ‘harap dan nyata’
Ada keyakinan yang tak terbeli
Oleh ribuan hari-hari penantian hati
Susuri hidup… walau tertatih seorang diri
dan kau tetap disana, diami sudut paling sunyi
dan suci…

15 Maret 2010

Sekedar Cerita

SEORANG IBU DAN ANAKNYA
Dikisahkan pula bahwasanya ada seorang wanita yang memiliki anak yang sangat jahat dan hari-harinya pun dilalui dengan lumuran dosa. Si ibu yang merupakan sosok wanita shalihah yang menyadari anaknya seperti itu, tentu saja menyuruh si anak untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruknya dan kemudian berbuat kebajikan serta tidak berpindah lagi kepada kebiasaan buruknya tersebut. Tetapi, anaknya tetap membandel, ia tidak mau berpindah dari kelakuan jahatnya yang telah dilakukannya selama ini. Perbuatan maksiat itu terus dilakukannya sampai ia menemui ajalnya. Maka bersedihlah sang ibu demi melihat anaknya yang mati tanpa tobat, dimana ia tidak melihat satu sisi pun dari kehidupan anaknya yang akan menyelamatkannya di hadapan Tuhan Penguasa Akhirat. Sang ibu tampaknya pasrah dengan nasib buruk yang akan dialami oleh sang anak di dalam kubur dan lebih-lebih di neraka.
Di suatu malam, ketika wanita itu tertidur, ia bermimpi tentang anaknya disiksa oleh malaikat penjaga kubur di dalam kuburnya. Akibatnya, semakin bertambah kedukaan sang ibu tersebut manakala bayangannya selama ini dilihatnya secara langsung sekali pun hanya dalam mimpi. Tetapi benarkah sang anak disiksa? Ternyata, ketika sang ibu memimpikan lagi anaknya di lain kesempatan, ia melihat anaknya dalam rupa dan kondisi yang sebaliknya dalam mimpi sebelumnya. Ia melihat anaknya saat itu diperlakukan dengan perlakuan yang sangat elok, yang berada dalam keadaan suka dan bahagia. Sehingga, ibunya pun terheran-heran dan bertanya pada sang anak, “Apa gerangan yang membuatmu bisa diperlakukan seperti ini, padahal dulu semasa engkau hidup engkau penuh dengan lumuran dosa?” Sang anak menjawab, “Wahai ibunda, di suatu ketika telah lewat di hadapanku sekelompok orang yang sedang mengusung jenazah yang hendak dikuburkan.
Mayat itu kukenal, dan ia semasa hidupnya ternyata lebih jahat daripada diriku. Kemudian aku ikut mengiringi pemakamanny, dan disana aku sempat menyaksikan makam-makam lainnya. Ketika itulah aku berpikir bahwa laki-laki sial itu sudah pasti ditimpa oleh huru-hara akhirat akibat perbuatan maksiatnya. Secara tidak sadar aku menangis dan membayangkan kalau diriku juga bakal ditimpa peristiwa yang mengerikan yang sama. Pada saat itulah aku menyesali segala kesalahan dan dosa yang telah kuperbuat, dan bertobat dengan sebenar-benarnya tobat di hadapan Ilahi.
Kemudian, aku membaca Al-quran dan shalawat Nabi SAW sebanyak sepuluh kali dan membacakan shalawat kesebelas kalinya dan pahalanya kuhadiahkan kepad ahli kubur yang naas tersebut, sehingga disitulah Allah SWT menunjukkan kemahapengampunanNya. Dia mengampuni dosa-dosaku. Jadi apa yang telah engkau lihat wahai ibunda, itulah nikmat yang telah diberikan Allah SWT atasku. Ketahuilah ibunda, bahwa shalawat atas Nabi SAW itu menjadi cahaya di dalam kuburku, menghapuskan dosa-dosaku dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang hidup maupun yang sudah meninggal.”

BURDAH

Burdah (audio dan text pdf) yang selama ini kita kenal tidak hanya tertuju kepada gubahan-gubahan al-Bushiri. Burdah ternyata juga memiliki akar yang kuat dalam budaya dan kesejarahan sastra di masa Rasulullah SAW.

A. Burdah Masa Nabi Muhammad saw.

Barangkali, selama ini kita, kalangan pesantren, hanya mengenal Burdah karya al-Bushiri semata. Padahal, ada kasidah Burdah lain yang muncul jauh sebelum al-Bushiri lahir (abad ke tujuh H, atau abad tiga belas M.). Kasidah itu adalah bait-bait syair yang di gubah oleh seorang sahabat yang bernama lengkap Ka’ab bin Zuhair bin Abi Salma al-Muzny. Sebagai ungkapan persembahan buat Nabi Muhammad Saw. Ka’ab termasuk salah seorang Muhadrom, yakni penyair dua zaman: Jahiliyah dan Islam.

Ada kisah menarik dibalik kemunculan Burdah Ka'ab bin Zuhair ini. Mulanya, ia adalah seorang penyair yang suka menjelek-jelekkan Nabi dan para sahabat dengan gubahan syairnya, kemudian ia lari untuk menghindari luapan amarah para sahabat Nabi.

Pada peristiwa Fathu Makkah (penaklukan kota Mekah), saudara Ka'ab yang bernama Bujair bin Zuhair berkirim surat padanya yang berisikan antara lain: anjuran agar Ka'ab pulang dan menghadap Rasulullah. Ka'ab-pun kembali dan bertobat. Lalu ia berangkat menuju Madinah dan menyerahkan dirinya kepada Rasul melalui perantaraan sahabat Abu Bakar. Diluar dugaan Ka'abb, ia justru mendapat kehormatan istimewa dari baginda. Begitu besarnya penghormatan itu, sampai-sampai Rasul rela melepaskan Burdah (jubah yang terbuat dari kain wol/sufi)nya dan memberikannya pada Ka'ab.

Dari sini, Ka'ab kemudian menggubah qasidah madahiyah (syair-syair pujaan) sebagai persembahan pada baginda Nabi yang terkenal dengan nama kasidah “Banat Su’ad� (Wanita-wanita Bahagia.) Kasidah ini terdiri dari 59 bait, dan disebut juga kasidah Burdah. Di antara prosa berirama gubahan Ka'ab adalah Aku tahu bahwa Rasul berjanji untuk memaafkanku/dan pengampunannya adalah dambaan setiap insan/Dia adalah pelita yang menerangi mayapada/pengasah pedang-pedang Allah yang terhunus

Burdah (jubah) pemberian Nabi itu, kemudian dibeli oleh sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan dari putra Ka’ab. Dan biasa dipakai oleh khalifah-khalifah setelah Mu’awiyah pada hari-hari besar.

B. Burdah Al-Bushiri

Kasidah Burdah karya Syaikh al-Bushiri, adalah salah satu karya sastra Islam paling populer. Ia berisikan sajak-sajak pujian kepada Nabi Muhammad Saw. yang biasa dibacakan pada setiap bulan maulid/Rabiul Awal, bahkan di beberapa belahan negeri Islam tertentu, Burdah kerapkali dibacakan dalam setiap even.

Sajak-sajak pujian untuk Nabi dalam kesusastraan Arab di masukkan dalam genre (bagian) al-madaih al-Nabawiyah. Sedang dalam kesusastraan Persia dan Urdu, dikenal sebagai kesusastraan na’tiyah (bentuk plural na’t yang berarti pujian). Dalam tradisi sastra Arab, al-mada’ih atau na’tiyah mula-mula ditulis oleh Hasan ibnu Tsabit, Ka’ab bin Malik dan Abdullah bin Rawahah. Sedang yang paling terkenal ialah Ka’ab bin Zuhair.

Pada abad ke-11 H., muncul seorang penyair al-madaih terkemuka, Sa’labi, yang juga seorang kritikus sastra. Namun munculnya al-Bushiri dengan Burdahnya, sebagaimana munculnya karya Majduddin Sana’i dalam bahasa Persia, al-madaih atau na’tiyah mencapai fase baru, yaitu tahapan sufistik, karena bernuansa nafas tasawuf. Lahirnya karya kedua penyair ini yang membuat puisi al-madaih berkembang pesat dalam kesusastraan Islam. Khusus karya al-Bushiri, selain sangat populer, ia juga sangat besar pengaruhnya terhadap kemunculan berbagai bentuk kesenian umat Islam. Karya al-Bushiri juga memberikan pengaruh yang tidak sedikit dalam mengoptimalkan metode dakwah Islamiyah, pendidikan dan ilmu retorika (ilmu Badi’ )

Nama Burdah muncul setelah pengarangnya mengemukakan latar belakang penciptaan karya monumentalnya ini. Ketika al-Bushiri mendapat serangan jantung, sehingga separuh tubuhnya lumpuh, dia berdoa tak henti-hentinya sembari mencucurkan air mata, mengharapkan kesembuhan dari Tuhan. Kemudian dia membacakan beberapa sajak pujian. Suatu saat dia tidak dapat menahan kantuknya, lantas tertidur dan bermimpi. Dalam mimpinya, ia berjumpa Nabi Muhammad saw. Setelah Nabi menyentuh bagian tubuhnya yang lumpuh, beliau memberikan jubah sufi (Burdah) kepada al-Bushiri “Kemudian aku terbangun dan kulihat diriku telah mampu berdiri seperti sediakala� ujar Syekh al-Bushiri.

Awalnya, al-Bushiri memberi nama karyanya ini dengan nama kasidah Mimiyah, karena bait-bait sajaknya diakhiri dengan huruf Mim, selanjutnya kasidah ini dikenal dengan kasidah Bara’ah, sebab menjadi cikal bakal sembuhnya sang pujangga dari kelumpuhannya. Hanya saja nama “kasidah Burdah� lebih populer di kalangan umat Islam dibanding sebutan yang lain.

Kasidah Burdah terdiri atas 162 sajak dan ditulis setelah al-Bushiri menunaikan ibadah haji di Mekkah. Dari 162 bait tersebut, 10 bait tentang cinta, 16 bait tentang hawa nafsu, 30 tentang pujian terhadap Nabi, 19 tentang kelahiran Nabi, 10 tentang pujian terhadap al-Qur’an, 3 tentang Isra’ Mi’raj, 22 tentang jihad, 14 tentang istighfar, dan selebihnya (38 bait) tentang tawassul dan munajat.

Kasidah Burdah telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia; seperti Persia, India, Pakistan, Turki, Urdu, Punjabi, Swahili, Pastun, Indonesia, Sindi dan lain-lain. Di Barat, ia telah diterjemahkan antara lain ke dalam bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol dan Italia.

KEAJAIBAN SHOLAWAT FATIH

Anda hafal dengan ayat ini, maka gunakanlah, karena ayat ini demikian dahsyat. Ini bukan sulap atau bukan sihir.

Sebagai contoh:

  • Pengalamanku di Pondok Al Qoyyim kemarin, ada seorang yang sekarang hidup berkecukupan dan lebih dari cukup. Ia menjelaskan kepada kami (santri-santri) saat diundang pada acara Tasyakuran atas keberhasilan anak-anaknya sekolah (sampai Amerika) dan mengembangkan bisnis hingga akhirnya sukses. Beliau memuja-muja kedahsyatan sholawat fatih ini. Kehidupan beliau dulu yang kurang mampu membuat beliau bekerja keras. Dalam usahanya, ketika suatu saat di perusahaan ia tidak bisa memecahkan kode-kode di komputer. Sampai ia bingung dan mengadakan rapat dengan rekan-rekan kerjanya untuk memecahkan masalah itu–namun gagal. Ia baca ayat ini tanpa sengaja ketika keluar ruangan, seketika itu kembali ke meja kerjanya ia langsung dapat kunci kode-kode itu tanpa ia sadari.
  • Waktu itu skripsiku tidak pernah selesai, karena aku sulit “berdiplomasi” dengan dosen-dosen pembimbingku. Namun karena ayat ini selalu aku baca sehabis sholat Tahajjud setiap malam sebanyak 300 x, tidak sampai 2 bulan pencerahan itu muncul sampai akhirnya aku bisa menyelesaikan ujian skripsiku dan wisuda. Memang ayat ini dahsyat untuk membuka hati kita seperti layaknya diri kita, dan menghilangkan segala macam gangguan yang datang dari luar diri kita.

23 Desember 2009

ZIARAH AHLI KUBUR

BIASANYA setiap hari Jumat atau sebelum menjelang bulan Ramadan dan di Hari Raya , komplek pemakaman ramai tidak sedikit dikunjungi orang orang yang berziarah. Ada yang berziarah ke makam orang tuanya. Ada yang berziarah ke makam sanak familinya atau karabatnya. Ada pula yang berziarah ke makam para sesepuh dan ulama. Hal ini demi untuk mendoakan mereka yang telah mendahului kita agar Allah memberikan kepada mereka rahmah dan ampunan dan mengharamkan jasad-jasad mereka dari sentuhan api neraka.
Rasulallah, sebagimana diriwayatkan Abu Daud, pada awal sejarah Islam pernah melarang umat Islam untuk berziarah kubur. Beliau khawatir umat Islam mengkultuskan kuburan, berlaku syirik, atau bahkan menyembah kuburan. Tapi selelah keimanan umat Islam meningkat dan kuat. Maka Rasulallah saw tidak khawatir lagi. Nabi pun kemudian bersabda : "Aku dulu melarang kamu berziarah kubur. Sekarang, aku anjurkan melakukanya. Sebab bisa mengingatkan kita kepada akhirat". Maka tradisi berziarah ini sangat baik dan terpuji demi mengingatkan kita semua, termasuk orang kaya, pamong praja, dan berpangkat, bahwa satu hari hidup kita pasti akan berakhir di pekuburan. Semua kemegahan hudup, rela tak rela, harus ditinggalkan dan kita harus terima babak baru perjalanan menghuni liang kubur yang luasnya sekitar 1 x 2 meter saja.
Telah ditetapkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, bahwa Rasulallah saw telah menganjurkan kita, disaat memasuki kompleks pemakaman, agar mengucapkan salam kepada ahlil kubur seperti memberi salam kepada orang hidup: "Salam sejahtera bagimu penghuni kubur dari kaum Muminin dan Muminat. Dan kami Insya Allah akan betemu dengan kalian. Kamu adalah orang orang yang mendahului kami dan kami akan menyusul kalian. Kami bermohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan kalian". Karna mereka (ahli kubur) mendengar, melihat, mengetahui dan membalas salam kita, akan tetapi kita tidak bisa mendengar mereka. Ucapan salam biasanya diberikan kepada orang yang mendengar dan berakal..Jika tidak, maka ucapan ini tidak mempunyai fungsi atau seolah-olah bersalam kepada benda jamad yang tidak mendengar dan berakal. Para salaf soleh, mereka semua bersepakat dengan apa yang telah ditetapkan Rasulallah saw dan dijadikan sesuatu yang mutawatir (diterima kebenarannya) yang mana ahli kubur (mayyit) mengetahui orang yang berziarah dan mendapatkan ketenangan dengan kedatangannya. Sesuai dengan hadisth yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa mayyit setelah dikubur mendengar suara sandal orang yang mengatarkannya ke kuburan. Dari A'isyah ra sesungguhnya Rasulallah saw bersabda : " Tidak diantara kalian berziarah kuburan saudaranya dan duduk disisinya, kecuali ia (mayyit) telah mendapatkan ketenangan dan ia hadir (datang) untuk menjawab salamnya sampai yang berziarah berdiri (pulang) "
Diriwayatkan oleh Abi Hurairah ra.. bahwa Rasulallah saw berkata : " jika seseorang melewati kuburan saudaranya dan memberi salam kepadanya, maka ia (mayyit) akan mejawab salamnya dan mengetahui siapa yang menziarahinya. Dan apabila seseorang melewati kuburan seseorang yang tidak dikenal kemudian memberi salam, maka ia (mayyit) akan mejawab salamnya".
Dari Ibnu Abdulbar sesungguhnya Rasulallah saw bersabda : " Jika seorang Muslim melewati kuburan saudaranya yang pernah dikenal di dunia, kemudian memberi salam kepadanya, maka Allah akan mengembalikan ruhnya kepadanya untuk menjawab salamnya". Diriwatkan oleh Bukhari Muslim, pernah Rasulallah saw menyuruh mengubur orang orang kafir yang meninggal dalam peperangan Bader di kuburan Qulaib. Kemudian beliau berdiri di muka kuburan dan memanggil nama nama mereka satu persatu : " Wahai Fulan bin Fulan!! .. Wahai Fulan bin Fulan!!.. Apakan kamu mendapatkan apa yang telah dijanjikan Allah kepada kamu? Sesungguhnya aku telah mendapatkan apa yang telah dijanjikan Allah kepada ku ". Sayyidina Umar bin Khattab yang berada disamping Nabi bertanya : " Ya Rasulallah sesungguhnya kamu telah berbicara dengan orang-orang yang sudah usang (mati)". Maka Rasulallah saw pun berkata : "Demi Yang telah mengutus aku dengan kebenaran, sesungguhnya kamu tidak lebih mendengar dari mereka dengan apa yang aku katakan". Ini semuanya merupakan nash-nash dan dalil-dalil yang menyatakan bahwa mayit itu mendengar, melihat , mengetahui dan membalas salam seseorang. Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang menerangkan bahwa ahli kubur (mayyit) itu mendengar, melihat, mengetahui apa yang terjadi disekitarnya dan membalas salam kita seperti orang hidup. Karna mereka (ahli kubur) tidak mati. Akan tetapi mereka berpindah dari satu alam ke alam yang lain, dari alam dunia ke alam barzakh. Allah berfirman didalam Surat al Mu’minun ayat 100 yang berbunyi : “ Sekali lagi tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka (ahli kubur) ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan “.
Imam besar Muslim meriwayatkan bahwa Rasulallah dan sahabatnya pernah melewati salah satu kuburan Muslimin. Setelah memberi salam kepada ahli kubur, tiba-tiba Rasulallah berhenti di dua kuburan. Kemudian beliau berpaling kepada sahabatnya dan bersabda : "Kalian tahu bahwa kedua penghuni kuburan ini sedang diazab di dalam kubur? Mereka tidak diazab karna dosa-dosa dan kesalahan mereka yang besar. Akan tetapi mereka diazab karna dosa-dosa dan kesalahan mereka yang sepele dan kecil. Yang pertama diazab karna suka berbuat namimah (mengupat / ceritain orang) dan yang kedua diazab karna tidak beristinja' (tidak cebok setelah hadats kecil)". Kemudian Rasulallah saw memetik dua tangkai pohon dan ditancapkanya di kedua kuburan trsb. Sahabat bertanya apa maksud dari yang telah dilakukan Rasulallah saw itu. Beliau bersabda : "Allah memberi keringanan azab bagi kedua penghuni kubur trb semasih tangkai-tangkai pohon itu basah dan belum kering. Karna tangkai- tangkai pohon trb beristighfar untuk penghuni kubur yang sedang diazab".
Sekarang, jika Allah memberi keringanan azab kepada ahli kubur karna istighfar sebatang pohon, istighfar seekor binatang, istighfar sebuah batu, pasir dan krikil atau benda-benda jamad lainnya yang tidak berakal. Apalagi istighfar kita sebagai manusia yang berakal dan beriman kepada Nya . Dalam kitab Subulus Salam, Assona’ni telah menegaskan bahwa ziarah kubur merupakan hikmah bagi kita yang hidup, agar kita bisa mengambil i’tibar dan contoh yang baik dari saudara-saudara kita yang telah mendahului kita. Pula telah diterangkan dalam kitab trb bahwa ahli kubur (mayyit) mendengar, melihat, mengetahui dan membalas salam orang yang berziarah sama seperti menziarahi orang hidup. Cukup bagi yang datang ke pemakaman diberi nama “penziarah“. Maka pasti yang diziarahi (ahli kubur) mengetahui siapa yang menziarahinya. Tidak mungkin dinamakan “penziarah“ jika yang diziarahinya tidak mengetahui siapa yang menziarahinya. Pula memberi salam kepada ahli kubur. Jika ahli kubur tidak mendengar dan mengetahui siapa yang memberi salam, hal ini sama saja dengan memberi salam kepada benda jamad atau benda mati. Maka ucapan salam diberikan kepada yang hidup, berakal, dan mendengar salam yang diberikan kepadanya. Contohnya:, dalam kitab al-Ruh, Ibnu Qayyem al-Jauziyyah meriwayatkan bahwa al-Fadhel bin Muaffaq disaat ayahnya meninggal dunia, sangat sedih sekali dan menyesalkan kematiannya. Setelah dikubur, ia selalu menziarahinya hampir setiap hari. Kemudian setelah itu mulai berkurang dan malas karna kesibukannya. Pada suatu hari dia teringat kepada ayahnya dan segra menziarahinya. Disaat ia duduk disisi kuburan ayahnya, ia tertidur dan melihat seolah olah ayahnya bangun kembali dari kuburan dengan kafannya. Ia menangis disaat melihatnya. Ayahnya berkata : “wahai anakku kenapa kamu lalai tidak menziarahiku? Al-Fadhel berkata : “ Apakah kamu mengetahui kedatanganku? ” Ayahnya pun menjawab : “ Kamu pernah datang setelah aku dikubur dan aku mendapatkan ketenangan dan sangat gembira dengan kedatanganmu begitupula teman-temanku yang di sekitarku sangat gembira dengan kedatanganmu dan mendapatkan rahmah dengan doa-doamu”. Mulai saat itu ia tidak pernah lepas lagi untuk menziarahi ayahnya .
Pada zaman peceklik, Bisyir bin Mansur selalu datang kekuburan muslimin dan menghadiri solat janazah. Di sore harinya seperti biasa dia berdiri dimuka pintu kuburan dan berdoa : “Ya Allah berikan kepada mereka kegembiraan disaat mereka merasa kesepian. Ya Allah berikan kepada mereka rahmat disaat mereka merasa menyendiri. Ya Allah ampunilah dosa-dosa mereka dan terimalah amal-amal baik mereka “. Basyir berdoa di kuburan tidak lebih dari doa-doa yang tersebut diatas. Pernah satu hari, dia lupa tidak datang kekuburan karna kesibukannya dan tidak berdoa sebagaimna ia berdoa setiap hari untuk ahli kubur.. Pada malam harinya dia bermimpi bertemu dengan semua ahli kubur yang selalu di ziarahinya. Mereka berkata : “Kami terbiasa setiap hari diberikan hadiah darimu dengan doa-doa. maka janganlah kamu putuskan doa-doa itu“.
Jika dalam berdoa ada adab-adab dan waktu-waktu yang mustajab dan diterima. Begitu pula dalam berziarah ada adab-adab dan waktu-waktu yang baik untuk berziarah. Adapun waktu yang baik dan tepat untuk berziarah adalah hari Jumat. Sebagimana Sufian al-Tsauri telah diberitahukan oleh al-Dhohhak bahwa siapa yang berziarah kuburan pada hari Juma’t dan Sabtu sebelum terbit matahari maka ahli kubur mengetahui kedatangnya. Hal itu karna kebesaran dan kemuliaan hari Juma’t. Pernah Hasan al Qassab dan kawannya datang berziarah kekuburan muslimin. Setelah mereka memberi salam kepada ahli kubur dan mendoakannya, mereka kembali pulang. Di perjalanan ia bertemu dengan salah satu temannya dan berkata kepada Hasan al-Qassab : “Ini hari adalah hari Senen. Coba kamu bersabar, karena menurut Salaf bahwa ahli kubur mengetahui kedatangan kita di hari Jumat dan sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya”. (lihat kitab al-Ruh) Disebut dalam kitab al-Ruh bahwa Ibunya Utsman al Tofawi disaat datang sakaratul maut, berwasiat kepada anaknya : “Wahai anakku yang menjadi simpananku disaat datang hajatku kepadamu. Wahai anakku yang menjadi senderanku disaat hidupku dan matiku. Wahai anakku janganlah kamu lupa padaku meziarahiku setelah wafatku“. Setelah ibunya meninggal dunia, ia selalu datang setiap hari Juma’t kekuburannya, berdoa dan beristighfar bagi arwahnya dan bagi arwah semua ahli kubur. Perna suatu hari Utsman al Tofawi bermimpi melihat ibunya dan berkata : “Wahai anakku sesunggunya kematian itu suatu bencana yang sangat besar. Akan tetapi, Alhamdulillah, aku bersyukur kepada Nya sesungguhnya aku sekarang berada di Barzakh yang penuh dengan kenikmatan. Aku duduk ditikar permadani yang penuh dengan rauhan dan raihanah dengan sandaran dipan-dipan yang dibuat dari sutera halus dan sutera tebal. Demikianlah keadaanku sampai datangnya hari kebangkitan”.. Utsman al Tofawi betanya : “ Ibu!.. Apakah kamu perlu sesuatu dari ku ? “ Ibunya pun menjawab : “Ya!..Kamu jangan putuskan apa yang kamu telah lakukan untuk menziarahiku dan berdoa bagiku. Sesunggunya aku selalu mendapat kegembiraan dengan kedatanganmu setiap hari Juma’t. Jika kamu datang ke kuburanku semua ahli kubur menyambut kedatanganmu dengan gembira“.
Di riwayatkan dalam kitab al Ruh, bahwa salah satu dari keluarga Asem al Jahdari pernah bermimpi melihatnya dan berkata kepadanya : “ Bukankan kamu telah meninggal dunia? Dan dimana kamu sekarang? “ Asem berkata : “ Saya berada diantara kebun-kebun sorga. Saya bersama teman-teman saya selalu berkumpul setiap malam Juma’t dan pagi hari Juma’t di tempat Abu Bakar bin Abdullah al Muzni. Disana kita mendapatkan berita-berita tentang kamu di dunia. Kemudian saudaranya yang bermimpi bertanya : “Apakan kalian berkumpul dengan jasad-jasad kalian atau dengan ruh-ruh kalian? “ Maka mayyit itu ( Asem al-Jahdari ) berkata : “ Tidak mungkin kami berkumpul dengan jasad-jasad kami karna jasad- jasad kami telah usang. Akan tetapi kami berkumpul dengan ruh-ruh kami “.. Kemudian ditanya : “Apakah kalian mengetahui kedatangan kami ? “. Maka dijawab : “ Ya!.. Kami mengetahui kedatangan kamu pada hari Juma’t dan pagi hari Saptu sampai terbit matahari “. Kemudan ditanya : “ Kenapa tidak semua hari-hari kamu mengetahui kedatangan kami? “. Ia (mayyit) pun menjawab : “ Ini adalah dari kebesaran dan keafdholan hari Juma’t “. Sebelum saya tutup ulasan ini, maka sekali lagi harus diingat bahwa tradisi berziarah adalah tradisi yang tetap hidup dengan segala warna warninya dan merupakan suatu hikmah dari Allah dan sunah Rasulallah yang baik, terpuji dan patut dingat maknanya se dalam-dalamnya agar bisa mengingatkan diri kita bahwa hidup ini akan berakhir dengan kematian..Wallahua’lam..

KHOTBAH HABIB UMAR BIN HAFIDZ

Segala madah bagi Allah SWT, penghimpun manusia di hari kiamat yang telah dipastikan. Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah SWT, satu-satunya, yang tiada sekutu bagi-Nya. Dialah yang bakal meletakkan seluruh manusia di hadapan-Nya, guna diberi pahala atau siksa. Ketika itu, beruntunglah manusia-manusia beriman yang pandai memanfaatkan waktu hidupnya dengan menghadiri majelis kebajikan, ketaatan dan zikir, dan menyesallah mereka yang telah menghabiskan umurnya untuk berbuat maksiat. Aku bersaksi bahwa sang panutan, Nabi Muhammad SAW adalah rasul yang diutus oleh-Nya untuk menabur hidayah di muka bumi. Ya Allah limpahkanlah salawat dan salam kepada Baginda Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat dan orang-orang yang patuh kepada beliau hingga hari akhir nanti.

Wahai hamba Allah
Dalam majelis ini, aku berwasiat kepada kalian samua, sekaligus kepada diri sendiri agar senantiasa bertakwa kepada Allah SWT. Ketahuilah, barangsiapa bertakwa kepada Allah SWT, ia akan hidup penuh kekuatan dan berjalan di bumi-Nya dengan rasa aman dan tentram

Wahai hamba Allah
Ada dua perkara yang menyebabkan umat Rasulullah SAW ini kerap kali dilanda musibah dan bencana, dan sayang sekali, mereka tidak menyadari, atau bahkan tidak mempedulikanya sama sekali, sekalipun beliau SAW dan para ulama telah sering mengingatkan.

Dua perkara itu adalah, pertama, tiadanya penghargaan akan waktu, kesempatan dan umur yang telah dianugerahkan Allah Subhanahu Wata’ala. Sekarang ini, umumnya umat telah menyia-nyiakan waktu dan membuangnya untuk hal-hal yang kosong. Sebagian lagi menghabiskan waktu dalam perbuatan makruh, dan, bahkan kemaksiatan. Perbuatan ini setianya memancing amarah Allah SWT. Namun mereka abai serta tak mengindahkan. Maka tidaklah mengherankan apabila bencana demi bencana mulai merebak di negeri muslimin.

Kedua, pergaulan dan persaudaraan yang tidak lagi dilandasi itikad baik. Ketika umur dan waktu terbengkalai, ketika perkawanan tidak lagi dilandasi niat baik, maka kerusakan merajalela, fitnah dan cobaan bakal mendera umat, tak peduli di desa maupun di kota. Baginda Nabi SAW, dalam sabda-sabdanya, telah banyak mengingatkan umat agar memanfaatkan waktu dengan maksimal dan mendasari pergaulannya dengan niat soleh. Semua itu demi kebaikan umat sendiri. Akan tetapi sayang, orang-orang sudah tutup telinga dan mata. Mereka tak lagi berminat mendengarkan seruan beliau SAW.

Sadarlah wahai muslimin. Waktu adalah esensi kehidupanmu. Umur adalah peluang yang diberikan kepadamu. Berharga atau tidaknya hidupmu bergantung pada bagaimana kau memanfaatkan usiamu itu.

Rasulullah SAW bersabda, Di hari pembalasan nanti, dua telapak kaki seorang hamba akan tertahan dijembatan sirat. Takkan beranjak sampai ia ditanya mengenai empat hal. untuk apakah seluruh umur hidupnya? Dikemanakan usia mudanya? Dari mana ia mendapatkan harta dan digunakan untuk apakah harta itu? Sudahkah ilmunya diamalkan?

Wahai hamba Allah
Kita wajib kembali ke jalur yang telah digariskan Rasulullah SAW. Beliau adalah insan yang selalu berkata jujur. Beliau adalah sang petunjuk, penyeru kebenaran, suluh umat, dan pemberi kabar-kabar dari Ilahi. Beliau sangat cinta kepada umatnya. Kasih beliau kepada kita lebih besar dari kasih orang tua kita sendiri kepada kita. Allah SWT berfirman,

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri”

Kembali ke dua hal di atas. Beliau SAW pernah mengabarkan, “Di dalam surga, para penghuninya masih merasakan suatu kerugian besar, yakni mengenai waktu yang telah berlalu—di kehidupan dunia—yang tidak mereka gunakan untuk berzikir kepada Allah SWT.”

Beliau juga mewanti-wanti, “Ketika suatu kaum duduk bersama-sama, akan tetapi tidak mengingat Allah SWT sama sekali, maka mereka bakal merasakan penyesalan di hari kiamat nanti.”

Pergunakanlah waktu dengan aktifitas yang baik. Ikatlah persaudaraan dengan asas yang bagus serta tujuan yang penuh manfaat. “Ketika seseorang menjalin kawan, meskipun sejenak di siang hari, kelak ia akan ditanya mengenai perkawanan itu: telahkan ia melaksanakan hak-hak Allah SWT atau mengalpakannya?” begitulah yang dinarasikan Rasulullah SAW.

Wahai hamba Allah
Kita sudah sering membuang-buang waktu. Di antara kita bahkan ada yang lebih banyak mengisi waktu untuk maksiat. Marilah kita renung-kan bersama. Ke manakah malam-malam kita? Untuk apakah umur-umur kita? Apa yang kita kerjakan antara Maghrib dan Isyak? Bagaimana kabar majelis muslimin, pasar-pasar dan warung-warung? Tempat-tempat itu telah menjadi ajang melupakan Allah SWT dan Rasul-Nya.

Ingatlah, bagaimana Baginda Rasul senantiasa zikir kepada Allah di setiap waktunya. Dulu, kaum muslimin tak pernah lalai untuk berzikir, di mana saja, siang dan malam. Akan tetapi kini, umat Islam, baik yang muda maupun yang tua, sudah menganggap remeh zikir. Mereka malas mengingat Allah dan lebih suka membicarakan yang lain. Ketika di dalam masjid sekalipun, mereka menganggap membaca Al-Quran tidak lebih asyik daripada bicara omong kosong. Hingga kita kerap menyaksikan mereka bicara tak tentu arah di dalam rumah Allah. Bahkan tak segan mereka meletakkan Al-Quran yang tengah dibaca hanya demi bisa mengobrol bersama rekan-rekan mereka. Sungguh, Betapa genting keadaan muslimin.

Tak hanya itu, umat Islam sekarang cenderung menjauhi majelis taklim. Ketika majelis pengajian diadakan di suatu desa, pesertanya selalu tak banyak. Orang-orang enggan datang dan lebih memilih kumpulan-kumpulan yang kurang baik. Mereka adalah manusia yang rugi. Mereka bakal menyesal. Keberadaan mereka sudah dinubuatkan Rasulullah SAW, “Manusia yang paling besar penyesalannya di akhirat kelak adalah mereka yang punya kesempatan untuk mengaji akan tetapi mereka sia-siakan kesempatan itu.”

Masa keemasan telah berlalu, yakni masa sahabat, tabiin, dan tabiin-tabiin. Masa ketika zikir, baca Al-Quran dan hadis menjadi kebiasaan, baik ketika makan, minum, tidur, dan segala rutinitas.

Wahai hamba Allah
Ketahuilah, suatu majelis yang dilandasi niatan baik dan tujuan yang mulia, yakni ridha Allah dan Rasulullah, akan membuahkan kebajikan-kebajikan. Di antaranya menangguhkan musibah, meredam permusuhan, dan mencegah perbuatan munkar, Semua itu lantaran sikap saling membantu di antara anggota. Dan mereka semua pasti memperoleh pahala-pahala dan anugerah yang tak kecil nilainya dari Allah SWT. Sebab itulah Allah SWT dan Rasul-Nya memberikan perhatian yang agung kepada majelis zikir dan majelis tak-lim.

Ya Allah, bimbinglah kami kepada kebaikan. Tambahkanlah rahmat-Mu untuk kami. Siramkan anugerah-anugerah-Mu kepada kami. Elokkanlah dhahir dan bathin kami, serta niat dan tujuan kami. Sirnakan kesulitan dari kaum muslimin. Dengan kasih-Mu, wahai Yang Maha Kasih Sayang.

16 November 2009

syiiran jawa

Sholli wasallim daa iman alah mada
Sholli wasallim daa iman alah mada
Wal ali wal ashaa biman qod wah hada
Wal ali wal ashaa biman qod wah hada

==================================

Eman lo wong Islam, ninggal Sholat wengi
Sak ben dalu turu, ora gelem tangi
Sholat wengi ngono, disenengi Gusti
Sopo gelem nyuwun, pasti di paringi

Sholat limang waktu, ayo podo njogo
Jama'ah nang masjid, bareng sak kluwargo
Ganjarane slawe, celengan suwargo
Malah biso dadi, pitu likur ugo



Yen Sholat kesusu, ora biso pernah
Rukuk lan sujude, ditoto sing genah
Sing khusyu' lan khudhur, ugo tumakninah
Ngerteni sing wajib, lan ngerti sing sunah


Yen rumongso sugih, itungen donyone
Bagiane Zakat, ojo dilalekne
Dulur karo tonggo, sing podo miskine
kabeh podo nunggu, zakat bagiane

Yen karo tonggone, Sing apik atine
Yen kahanan longgar, mikiro butuhe
Sajak perlu utang, enggal di peringne
Nanging ojo nganti, njaluk anak ane


Ayo do ngurangi, nonton televisi
Timbang nonton TV, luweh becik ngaji
"Ahbaabul Musthofa" wadah kanggo ngaji
Kumpul poro Habaib lan poro Kyai


Eman lo wong ngaji, campur lanang wadon
Campur lanang wadon, lamun dudu mahrom
Biso biso malah, nglakoni sing harom
Ilmu gak manfa'at, rusak malah klakon

Lanang karo wadon, manggon sepi sepi
Nyanding senggal senggol koyok kebo sapi
Ngunu kuwi duso, nurut poro nabi
Ojo di terusno, yen durung di rabi

9 November 2009

MALAIKAT BERSAYAP HITAM

Malaikat Besayap Hitam

~inggin ku cabik masa lalu ku yang hitam kelabu~
~serta berteriak sekeras mungkin dengan suara hati yang tercabik~
....dan aku bertanya dengan hati kecil ku........
~apakah semua penderitaan yang hitam ini akan berakhir? ~
~ bagaikan malaikat bersayap hitam yang melukiskanku tentang masa lalu ku yang hitam di dalam kanvas putih ... dengan kuas yang berwarna merah darah yang terukir di dalam jiwa ku~
~ mengapa semuanya harus terukir seperti jalan setapak yang tak berujung~
~ tanpa sebuah mimpi dan masa lalu yang indah~
~ inggin ku lenyapkan saja , keberadaan ku yang tanpa arti ini~
~ seperti sang malaikat hitam yang terjatuh di ujung bumi dengan sayap yang berguguran ~
~ dan menghilang untuk selamanya dalam kegelapan malam~

KESEDIHAN AKAN CINTA

KESEDIHAN AKAN CINTA(Abdullah d' krl)

suatu duka menyapaku,
air mata adalah temanku…
cinta hepaskan rasa ditelaga duka…
diantara mereka yang bahagia
kupersembahkan ceria dalam tawa kesedihan,
saat-saat yang indah telah terlewati
kesedihan akan menyonsong hidupku ini,
saat detik demi detik telah ku lewati bersamamu,
kini tinggallah kenangan dan memori yang tersimpan dalm hati…
kini kusadari diriku lemah tanpamu..
gapai jemariku dan miliki aku seperti dirimu yang selalu bahagia
bila bersamanya…..
kuingin selalu ada dirimu
untuk menemani setiap langkahku
dimanapun aku berada..
cinta apakah kau masih milikku seorang..???

hatiku gelisah membisu,
tetap setia menantimu walaupun kau
bukan lagi milikum
lambaikan tangnmu untuk mengiringi langkahku..
dan bukakan kembali pintu hatimu untuk mencintaiku
dengan tulus
dengan sepenuh hatimu.

kasih…smua yang pernah kau curahkan
kubawa diperjalanan hidup ini,
tapi resah dan gelisah selalu menghantui diriku,
karnena sifatmu yang tak pasti.
aku akan melupakan
dan mengusikmu untuk selamanya
“SARTIKA DEWI”
karna kau bukan orang
yang pasti untuk mengisi ruang hatiku
dan kamu juga tidak dapat mengubah
aku yang dulu menjadi ledih baik,
namun kehadiranmu justru membuatku
lebih buruk dari yang dulu.

cinta… apakah engkau telah pergi dariku…???
mengapa engkau tidak pernah
memberikan aku kesempatan untuk
mencintai seseorang
dalam hidupku,
apakah masih ada orang yang tulus
dan sepenuh hati mencintai diriku ini….

31 Oktober 2009

KU INGIN MILIKI DIRIMU

NGIN KU MILIKI DIRIMU
Puisi cinta dari MARTER OF Ka eR eL

Terlalu lama ku pendam
Semua rasa ini padamu
Kini ku sudah tak tahan
Ku ingin kau tau semua..
Aku lebih dulu mencintaimu
Aku lebih dulu mengenalmu
Bukannya dia..
Cinta itu harus diungkapkan
Cinta itu harus memiliki
Tak kan kulepaskan dirimu
Memang tinggi egoku
Namun.. ingin ku miliki dirimu..
Demi cinta yang t`lah lama ku pendam
Demi mengganti semua pengorbanan
Yang t`lah ku lakukan untukmu
Kau harus jadi milikku..

7 Oktober 2009

Miris


Sayang...............................

Satu kta tuk seseorang yang benar benar kita sayangi

Tapi mengapa kata itu tlah lama aku tak mendengarnya

Apa benar, yang namanya saying bisa tenangkan hati seseorang

Mengapa orang yang yeramat kita sayangi bias menyakiti hati ini, dan membuatnya

Terluka

  • Hatiku, apakah telah meletakkan akhirat sebagai tujuan utama, sedangkan aku masih merisaukan kebutuhan dunia
  • Hatiku miris ketika tlah sadar aku tak meletakkan akhirat sebagai tujuan utama
  • Lebih miris lagi ketika aku mengharap Ridlo Allah, sedang aku tak pernah Ridlo pada-Nya
  • Saat aku kembali tuk mendekatkan diri pada-Nya, aku tak bias merasakan kenikmatan berada di sisi-Nya,
  • Peringatan itu tak pernah aku hiraukan,
  • Mengapa aku tak kunjung mengerti akan rasa yang engkau berikan

2 Oktober 2009

SHOLAWAT MUNJIYAT

Pembacaan shalawat secara tegas diperintahkan dalam AlQuran, dan sedemikian banyak hadits telah menceritakan fadlilahnya. Di samping ibadah, shalawat juga berakibat akan lebih mendorong dikabulkannya doa oleh Allah SWT.

Salah satu shahabat yang sudah biasa bershalawat, sempat menanyakan apakah betul shalawat munjiyat, shalawat nariyah, dll sebagai bidah, syirik, ghuluw, dan lain-lain. Hal ini sebagaimana dituduhkan sekte radikal yang marak di tanah air saat ini, aktif sekali memborbardir kaum muslimin dan muslimat dengan tuduhan2 sadisnya itu. Tak ayal lagi yang biasa shalawatanpun jadi ragu dan bertanya-tanya, tentang keabsahan shalawatnya.

Pertanyaan semacam di atas, Subhanallah, ternyata akhir2 ini sering muncul. Saya bertanya2, mengapa shahabat2 saya sampai seperti terintimidasi begitu. Dalam browsing di internet, ternyata betul dugaan saya. Yakni, pastilah yang bertanya tadi baru saja terkontaminasi virus yang ditebar oleh sekte wahabi yang di Indonesia saat ini diikuti dan di-taqlid-i oleh sejumlah ormas dan orpol radikal. Gawatnya virus itu akhir2 ini ditebar begitu banyak di internet. Innalillahi wa inna ilaihi roojiuun.

Tanpa bersusah payah saya menemukan beberapa web page di internet yang mengklaim shalawat nariyah dan shalawat lainnya sebagai bidah, syirik, dan tuduhan2 kejam lainnya.

Mari duduk dengan tenang dan jangan berprasangka buruk kepada ummat Islam. Ingatlah (hadits shahih Imam Bukhari) bahwa Rasulullah SAW pun ketika masih hidup juga pernah dituduh bidah oleh seseorang bernama Abdullah bin Dzil Huwasirah (ADH) yang tentu saja membuat para shahabat geram. Rupanya walaupun si ADH ini ahli ibadah (bahkan luar biasa kuantitas ibadahnya) namun ditetapkan oleh Rasulullah SAW bahwa Islam telah lepas dari dadanya secepat panah lepas dari busurnya. Naudzubillahi min dzalik.
(Artikel “Jangan gentar ejekan orang dalam kita beribadah”).

Jadi saya ingatkan, awas jangan diulangi lagi, menuduh orang Islam yang ibadah dengan sungguh di jalan Allah, justru dituduh bidah, kafir, masuk neraka, dll. Tuduhan itu bisa berbalik dengan cepat, secepat panah. Rasulullah SAW mengancam orang yang suka mengkafirkan orang lain, bahwa bisa-bisa orang itu sendiri yang akan dicap kafir oleh Allah SWT.

Sekarang mari kita analisa Shalawat Munjiyat yg dimaksud itu.
Allahumma shalli wa sallim alaa sayyidina Muhammadin wa ala aali sayyidina Muhammadin shalatan tunajjina biha min jamii’il ahwali wal aafat, wataqdliilana biha jamii’al hajat, dst.

Ya Allah, mohon sampaikan shalawat dan salam kami kepada Nabi Muhammad beserta keluarganya, yang dengan shalawat itu semoga Engkau berkenan menghindarkan kami dari segala mara bahaya, dan semoga dengan shalawat itu Engkau berkenan mengabulkan hajat kami, dst. (permohonan yang serupa)

Nampak tidak ada sedikitpun dari doa ini yang aneh. Tapi bagi sekte fundamentalis, doa ini sdh dianggap pintu murtad. Alasannya Aneh bin ajaib, yakni dianggap bahwa Nabi Muhammad dianggap sebagai Tuhan yang melepaskan orang dari marabahaya.

Bagi yang tidak pernah belajar nahwu (grammar) tentu akan ketakutan dituduh syirik begitu. Apalagi yang menuduh berpenampilan “sangat Islami” dengan jenggot beberapa lembar dan dahi yang hitam. Tidak heran bagi awam akan langsung ketakutan.

Padahal telah jelas di kalimat tersebut, bahwa kata “tunjiina biha min jamiil ahwal” itu memiliki fiil “tunjiina” dan jar-majrur “biha”. “Tunjina” itu dari kata kerja yunjii (menyelamatkan) yang ber-fail (subject) Anta (Engkau), yg tak lain adalah Allah (yg disebut di “Allahumma” tadi). Sedangkan “biha” adalah kata depan bi (dengan) ditambah ha (kata ganti muannats untuk kata shalawat yang sudah jelas muannats). Jadi maknanya adalah “dengan berkah dari membaca shalawat itu, semoga Engkau, Ya Allah, menyelamatkan kami dari marabahaya”.

Nah, dari analisa grammar ini, jelaslah bahwa pelaku (subject) dari “menyelamatkan” itu jelaslah kata “Engkau” (Allah SWT). Untuk itu tidak ada sedikitpun kemurtadan di sana. Justru dengan memohonnya langsung kepada Allah SWT dg diiringi bacaan shalawat itu, akan membuat doa jadi di-ijabahi oleh Allah SWT. Insya Allah dengan analisa ini, seorang muslim tidak akan mudah lagi dipermainkan oleh sekte radikal tersebut.

“Sarana dan tujuan” atau “wasilah dan ghayah”, seringkali tidak bisa dipahami dengan mudah oleh sekte radikal. Entah virus apa yang bercokol di hatinya hingga sedemikian kerasnya tidak mau menerima nasihat. Padahal telah mafhum, bahwa bila orang sakit pergi ke dokter itu, maka yang menyembuhkan adalah Allah SWT dan bukan dokter. Di sana dokter hanya sbg wasilah dan bukan ghoyah. Orang minum mixagrip kemudian flunya sembuh, maka bukanlah mixagrip yang menyembuhkannya, melainkan Allah SWT, dengan memakai perantara (wasilah) mixagrip. Demikian pula dengan shalawat yang menjadi wasilah atas terkabulnya doa oleh Dzat yang kita tuju yakni Allah SWT.

Untuk itu, mari kesampingkan segala ocehan sekte radikal tersebut, tidak usah dibuka websitenya yang penuh racun itu, agar kita semua, ummat Islam selamat di dunia hingga akhirat kelak. Amin ya rabbal aalamiin. Mari perbanyak membaca shalawat dan salam kepada Baginda Rasulullah SAW.



Segala Puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian ‘alam. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabat beliau.
Perkenankan hamba Allah yang bodoh ini urun rembug dalam blog yang mulia ini.
Bershalawat adalah ibadah yang diperintahkan Allah SWT lepada orang-orang beriman.
Dasar Shalawat
QS. Al-Ahzab 33 : 56
56. Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya..

Pengertian Shalawat
Berkata Abul-Aliyah bahwa shalawat Allah untuk hambaNya berarti pemberian rahmat, sedangkan shalawat malakat berarti doa dan istighfar (permohonan ampun). Ayat di atas juga menjelaskan bahwa Allah Subhanahu wata’la memerintahkan hamba-hambaNya agar bershalawat pula untuk beliau serta mengucapkan salam penghormatan kepadanya. –Tafsir Ibnu Katsir 6, hal. 324.

Ucapan Shalawat
Dari Kaab bin Ujrah bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam : “Ya Rasulullah, kami telah mengetahui bagaimana cara mengucapkan salam, maka bagaimanakah hendaknya kami mengucapkan shalawat?”. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda : ucapkanlah
“Ya Allah, curahkanlah rahmat atas Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah curahkan rahmat itu kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, dan berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana telah Engkau berkat Ibrahim dani keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau maha terpuji dan Maha mulia. (HR.Bukhari) –Tafsir Ibnu Katsir 6, hal. 325.

Dari Abi Mas’ud r.a. ia berkata : Rasulullah pernah dating kepada kami, yang waktu itu kami sedang duduk-duduk dengan Sa’ad bin ‘Ubadah, lalu Basyir bin Sa’ad berkata kepadanya : “Kami diperintah untuk bershalawat untuk engkau, maka bagaimana kami harus bershalawat untuk engkau?”
Rasulullah SAW diam sehingga kami merasa lebih senang kalau seandainya Basyir tidak bertanya. Kemudian beliau bersabda : Ucapkanlah :
(Ya Tuhanku, curahkanlah rahmat atas Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah curahkan rahmat itu keluarga Ibrahim, dan berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana telah Engkau berkati keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau maha terpuji dan Maha mulia. (HR.Ahmad, Muslim, Nasai dan Tirmidzi)
–Nailul Author 2, hal. 580
–Bulughul Maram, hal.138

Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda : Ucapkanlah :
(Ya Tuhanku, curahkanlah rahmat atas Muhammad dan ister-isterinya dan keturunannya sebagaimana Engkau telah curahkan rahmat itu keluarga Ibrahim, dan berkatilah Muhammad dan isteri-isterinya dan keturunannya sebagaimana telah Engkau berkati keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau maha terpuji dan Maha mulia. (HR.Ahmad, Bukhory dan Muslim)
–Nailul Author 2, hal. 582.
–Tafsir Ibnu Katsir 6, hal. 326.
–Sahih Bukhari (Abadisul Anbiya) no. 3118.
–Sahih Muslim (sholat) no. 615
–Al-Muwatha (Nida’) no. 357.

Dari Ka’ab bin Ujrah, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda : Ucapkanlah :
(Ya Tuhanku, curahkanlah rahmat atas Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah curahkan rahmat itu keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau maha terpuji dan Maha mulia. Ya Allah, berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana telah Engkau berkati Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau maha terpuji dan Maha mulia. (HR.Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasai dan Ibnu Majah)
–Al-Jami’us Saghir 4, hal.61
–Sahih Bukhari (Da’awaat) no. 5889.
–Sahih Muslim (sholat) no. 614.
–Ahmad (Musnadul Kufiyin) no. 17409.

Dari uraian di atas dan dari kitab-kitab hadits yang saya miliki saya tidak menemukan bentuk shalawat yang bernama shalawat munjiyat tersebut.
Oleh karena itu perkenankan saya bertanya :
1. Siapakah (sahabat, tabi’in, tabi’ittabi’in, ulama, kyai) yang menciptakan shalawat tersebut? Dan di kitab atau buku apa saya bias memperoleh keterangan tentang masalah tersebut?
2. Saya mendapatkan striker shalawat munjiyat dari seseorang yang rupanya sangat gencar memasyarakatkan shalawat tersebut, di sana terdapat beberapa keutamaan membaca shalawat munjiyat yang begitu banyak. Mohon ditunjukkan dalil-dalil (hadits, pendapat ulama, pendapat kyai, dll.) dan terdapat di kitab apa? Halaman berapa?

Mohon maap jika uraian dan pertanyaan di atas kurang berkenan.
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmatnya kepada kita. Amien.

JILBAB BIRU


Separuh jiwaku dipenuhi cinta
Separuh yang lain di isi rindu

bolehkah aq merindukan wajah yang bercahaya
wajah yang terbalut oleh jilbab biru

dengan senyummu yang menawan

senyum yang hanya di berikan untuk jiwaku (pede mbanget ya)

ijinkan aq tuk melihat senyummu lagi
kepada Ilahi q berharap


Demikian pulalah dengan cinta
hanya cinta yang tinggi yang mampu mendaki puncak keindahannya
dan hanya orang yang mengerti cinta

yang berhak mendapatkan keindahannya